Alkisah, seorang jawara bernama Sangkuriang kembali ke kampung halamannya setelah lama terusir akibat sebuah insiden kelam di masa lalu. Dalam peristiwa tersebut, dia tanpa sengaja telah menghilangkan nyawa ayahandanya sendiri. Sejak pengusiran itu, Sangkuriang mengembara ke berbagai daerah, berguru pada banyak jawara dan petarung, hingga akhirnya memperoleh kesaktian yang mumpuni dan nama yang disegani.
Setibanya kembali di kampung halaman, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang cantik jelita. Tanpa menyadari jati diri wanita tersebut, dia seketika jatuh cinta dan berniat melamarnya. Namun, saat Sangkuriang menundukkan kepala dengan sopan menanti jawaban atas lamarannya, wanita itu justru mendadak histeris dan menolak dengan tegas. Penolakan tersebut bukan tanpa sebab, sebab wanita itu adalah Dayang Sumbi, ibu kandung Sangkuriang sendiri.
Kebenaran itu terungkap ketika Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepala Sangkuriang, luka lama yang dia kenal. Luka tersebut berasal dari masa kecil Sangkuriang, ketika dia pergi berburu bersama anjing kesayangannya bernama Tumang. Karena gagal mendapatkan buruan, Sangkuriang justru menghabisi Tumang demi menjaga harga dirinya di hadapan sang ibu. Namun alih-alih mendapat pujian, dia justru menerima hukuman berupa pukulan centong nasi, sebab Tumang sejatinya adalah jelmaan ayah Sangkuriang. Peristiwa itulah yang berujung pada pengusirannya.
Meski telah mengetahui kenyataan tersebut, Sangkuriang tetap bersikeras. Dia beranggapan bahwa Dayang Sumbi bukanlah ibunya dalam pengertian biologis, sehingga keinginannya tidak layak ditolak. Terdesak oleh paksaan yang terus berlanjut, Dayang Sumbi akhirnya mengajukan sebuah syarat ekstrem: Sangkuriang harus membendung Sungai Citarum dan membuat sebuah kapal besar untuk mengarunginya, seluruhnya harus selesai dalam satu malam. Tanpa ragu, syarat itu pun disanggupi.
Dengan kesaktiannya, Sangkuriang memanggil ribuan jin untuk membantunya bekerja. Pekerjaan hampir rampung ketika Dayang Sumbi, dibantu penduduk desa, menciptakan ilusi datangnya pagi dengan membuat ayam berkokok lebih awal. Mengira fajar telah tiba, para jin pun kembali ke alamnya. Menyadari bahwa syarat tersebut gagal dipenuhi, Sangkuriang diliputi amarah. Dalam luapan emosinya, ia menendang kapal yang hampir selesai hingga terbalik. Kapal itulah yang kemudian dipercaya menjelma menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Jika kalian merasa aneh dengan kisah Sangkuriang dan Tangkuban Perahu di atas, percayalah jika esensinya lebih bagus meskipun penceritaannya agak weird. Kisah Sangkuriang mengajarkan jika dalam mengejar suatu hal, kadang ada batas-batas moral yang mesti kita jaga supaya tidak sampai terlewati. Membuat perencanaan rinci dan memiliki ambisi itu bagus, hanya saja kita juga mesti sadar akan batas-batas norma yang berlaku supaya hasilnya tidak destruktif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

0 Komentar