Torii: Gerbang Mistis Menuju Dunia Lain

Torii Jepang

FAKTAMINI — Jika kita berbicara mengenai Torii, maka kita akan lekat dengan kepercayaan Shinto dan Jepang, karena dari sana sumber utamanya. Torii sendiri jika kita lihat tidak bisa disebut gerbang karena bentuknya seperti dua tiang vertikal di sisi kanan dan kiri lalu menopang dua tiang horizontal di atasnya, dicat warna merah menyala namun kadang dibiarkan berwarna asali sesuai warna kayu yang dipakai. Bentuknya lebih seperti pembatas antar wilayah. Namun, itu makna yang terlihat. Jika kita analogikan Torii sebagai wilayah pembatas antara dunia/wilayah suci dengan wilayah fana, maka sudah tepat jika Torii disebut sebagai gerbang.

Torii sendiri cukup unik dimana jika kita berbicara Torii, maka kita akan terpikirkan Torii yang ikonik dan berasal dari Jepang. Yang mana kalau kita cari ke daerah sekitaran Jepang, seperti Tiongkok atau Korea Selatan, maka kita akan menemukan Pailou dan Hongsalmun yang memiliki bentuk dan warna hampir sama. Hanya saja lebih jarang terdengar dan Torii ini lebih ikonik dibanding ke dua tipe arsitektur ini. Artinya, baik secara sejarah, legenda maupun keyakinan, Torii berperan penting dalam strata kemasyarakatan dari masa ke masa Jepang.

Secara legenda, dalam kisah Legenda Amano-Iwato dimana Dewi Amaterasu yang mengurung diri karena "ngambek" dan menimbulkan kekacauan akibat hilangnya matahari. Karena masalah ini, beberapa pihak seperti Dewa mencari cara memancing Sang Dewi Tertinggi itu keluar. Salah satu caranya adalah dengan meletakan Ayam Jantan yang bertengger di sebuah palang kayu dekat gerbang batu dan berkokok dengan keras. Keributan dari suara itu membuat Dewi Amaterasu akhirnya mengintip keluar untuk mengecek dan sejak saat itu, palang ayam itu berdiri dianggap sebagai blueprint awal dari Torii.

Ada juga beberapa teori lain tentang latar terciptanya Torii ini selain kisah di atas. Dimana ada yang mengatakan, jika penganut Shinto awalnya tidak memiliki kuil tapi langsung berdoa ke alam langsung sehingga dari sini kemungkinan lahirnya mitologi dewa-dewi lokal Shinto, dari pergunungan, sungai, hutan dan pedalaman wilayah tertentu. Dan untuk membatasi antara wilayah yang dianggap suci dengan wilayah manusia biasa, maka terciptalah Torii ini sebagai gerbang antara dunia lain yang suci dan dunia manusia yang fana.

Kalau disimpulkan, Torii sendiri merupakan pembatas sekaligus pengingat jika nenek moyang dahulu, memasang ini untuk supaya orang-orang lebih menghargai akan berkah dan keindahan alam. Dan filosofi ini terbawa hingga zaman sekarang dalam benak orang Jepang modern meskipun semakin berlawanan di era sekarang.

Di tengah kerusakan lingkungan, deforestasi, pencemaran laut, dan perubahan iklim yang kian nyata dalam beberapa tahun terakhir, Torii seakan kehilangan fungsinya sebagai pengingat, dan lebih sering diperlakukan sebagai latar foto semata. Padahal, esensi keberadaannya sejak awal bukanlah hiasan, melainkan peringatan sunyi bahwa alam bukan milik manusia sepenuhnya, melainkan titipan yang bisa rusak jika dilupakan batasnya.

Posting Komentar

0 Komentar